Masyarakat menagih janji Jokowi. Dulu, Jokowi bilang, penanganan banjir Jakarta lebih mudah jika Jokowi jadi Presiden. Kenapa sekarang sudah 100 hari jadi Presiden Jakarta masih banjir? Jokowi bohong? Jokowi bilang bukan urusan saya?
Mari saya ajak anda jalan-jalan di Jakarta.
Jika anda ke area Jakarta Utara, anda akan melihat bahwa permukaan laut lebih tinggi dari darat, sehingga jika tidak dibuat tanggul seperti pada gambar, maka area tempat saya memotret akan banjir.
Bahkan rumah-rumah di sekitar laut utara Jakarta perlu membuat tanggulnya masing-masing agar air laut tidak masuk rumah saat laut pasang.
Problem kebanjiran yang sering dikeluhkan masyarakat juga seringkali datangnya dari masyarakat itu sendiri. Yang membangun rumah di atas tanah saat sungai atau waduk surut. Sehingga saat musim hujan tiba, yang mana air memang seharusnya melewati sungai, namun masyarakat sudah membangun rumah di atas sungai yang tadinya surut. Lalu complaint. Salahkan gubernur, kenapa Jakarta kebanjiran. Padahal rumahnya memang dibangun di sungai yang sedang surut (baca: bantaran).
Oleh karenanya, Pemda DKI sudah mulai menggusur warga yang tinggal di (bantaran) sungai. Agar lalu lintas air bisa lancar tidak melewati rumah-rumah anda.
Sumber: Air Belanda Indonesia. Cooperation between Indonesia and The Netherlands in the field of water
Persoalan laut yang lebih tinggi dan masyarakat yang tinggal di (bantaran) sungai memerlukan penanganan banjir terpadu. Mulai dari revitalisasi sungai, hingga perlindungan kota. Untuk itu Jakarta bekerjasama dengan Belanda membangun Giant Sea Wall, yang membendung Jakarta dari laut, lalu dipasang banyak pompa untuk memompa air dari utara Jakarta ke luar tanggul. Seperti yang penanganan banjir yang dilakukan di Belanda.
Seperti ini master plan Giant Sea Wall untuk Jakarta.
Coba anda perhatikan maket di atas. Tanggul pelindung Jakarta direncanakan dibuat cantik, dengan perumahan dan apartment di atasnya. Menjadikan Jakarta kota Metropolitan betulan.
Memang, dalam hal ini para penguasa yang menjual belikan lahan bantaran sungai dan bantaran waduk akan dirugikan jika warga bantaran digusur, lalu mengajak demo. Tapi, apa boleh buat. Penguasa-penguasa ini kan sudah untung puluhan tahun dari hasil sewa, palak memalak, jual beli waduk dan sungai yang sedang surut, yang kemudian dialiri listrik dan PAM. Sekarang gantian, kita warga Jakarta sudah bosan kebanjiran. Dengan kerugian triliunan sekali banjir.
Sudah saatnya warga Jakarta mendukung program pengendalian banjir Jakarta. Jadilah warga yang berhenti goblog dengan berhenti membuang sampah di sungai. Berhenti membangun rumah di sungai. Dan waraslah sedikit: pengendalian banjir yang sudah diabaikan 20 tahun tidak bisa dibangun dalam 100 hari.
Mari dukung upaya pengendalian banjir Jakarta.

No comments:
Post a Comment